Simak berikut ini beberapa hal yang menjadi penyebab diabetes terjadi.

“dilansir dari laman Hellosehat” Penyebab diabetes tipe 2 biasanya adalah resistensi insulin, dimana ketika suatu kondisi yang terdapat pada sel-sel otot, hati, dan lemak tidak dapat menggunakan insulin dengan optimal. Akibatnya, tubuh tersebut  membutuhkan lebih banyak insulin supaya kadar glukosa dalam tubuh bisa tetap stabil. Pada akhirnya justru ada kebanyakan glukosa yang tidak dapat diserap oleh sel tubuh dan menngalir dalam darah. Saat gula tidak dapat memasuki sel-sel, kadar gula dalam darah meningkat tinggi. Jika kondisi ini dibiarkan terus-terusan dapat menyebabkan hiperglikemia. Kebutuhan insulin yang terus meningkat membuat sel beta pankreas bekerja lebih keras. Akibatnya sel beta pankreas justru tidak mampu merespons perubahan glukosa darah dalam tubuh dengan baik. Hal ini menyebabkan insulin tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Resistensi insulin sendiri  yang menjadi penyebab diabetes bisa disebabkan oleh berbagai  hal, termasuk:

  • Faktor genetik.Bila kakek, nenek, orangtua, atau saudara kandung Anda memiliki penyakit ini, Anda juga berisiko tinggi untuk mengelaminya juga.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas. Peningkatan lemak membuat tubuh mengalami resistensi insulin sehingga kesulitan menggunakan insulin dengan benar.

Diabetes melitus tipe 2 merupakan suatu kondisi yang sepenuhnya belum dipahami oleh beberapa  para ahli. Pasalnya, sejumlah orang ternyata dapat berisiko tinggi mengalami diabetes tipe 2 dan sebagian lagi tidak. Terlepas dari hal tersebut, beberapa para ahli dipercaya bahwa ada beberapa hal yang jelas dapat meningkatkan faktor risiko diabetes tipe 2, seperti:

  • Diabetes kehamilan
READ  YUK KENALI CIRI-CIRI GULA DARAH TINGGI

Jika Anda mengalami diabetes saat hamil (diabetes gestasional), risiko Anda mengalami diabetes tipe 2 meningkat. Jika Anda melahirkan bayi yang beratnya lebih dari 4 kilogram, bayi Anda juga berisiko mengalami diabetes tipe 2 di masa dewasanya.

  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS)

PCOS erat kaitannya dengan resistensi insulin. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, jika Anda sudah mengalami resistensi insulin, maka risiko Anda terkena penyakit diabetes juga akan meningkat. Sejumlah kondisi medis lain seperti pankreatitis, sindrom Cushing, dan glucagonoma juga dilaporkan bisa meningkatkan risiko diabetes.

  • Obat-obatan tertentu

Beberapa obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan juga bisa memengaruhi kadar gula dalam darah, yang pada akhirnya menyebabkan penyakit diabetes. Apalagi jika sudah terkena penyebab diabetes yang dapat beresiko tinggi pada sipenderitanya. Obat steroid, statin, diuretik, dan beta-blocker merupakan beberapa jenis obat yang diketahui dapat memengaruhi kadar gula dalam darah. Silakan konsultasi ke dokter untuk informasi lebih lanjut.

  • Berat badan

Memiliki kelebihan berat badan merupakan faktor risiko utama untuk diabetes tipe 2. American Diabetes Association pun mengatakan yang serupa. Dalam laman resminya, orang yang obesitas berisiko 80 kali lebih mungkin terkena penyakit diabetes tipe 2 ketimbang yang memiliki berat badan ideal.  Hal ini terjadi karena semakin tebal jaringan lemak, sel-sel semakin kebal juga terhadap insulin. Selain itu, jika tubuh Anda menyimpan lemak pada bagian perut, risiko Anda lebih besar mengalami diabetes tipe 2 dibanding jika tubuh Anda menyimpan lemak di bagian lain, seperti pinggul dan paha.

  • Gaya hidup sedentari
READ  Ketahui ciri-ciri diabetes yang dapat terjadi.

Sedentari adalah pola perilaku minim aktivitas fisik atau gerakan fisik. Padahal, aktivitas fisik membantu Anda mengontrol berat badan, menggunakan glukosa sebagai energi, dan membuat sel-sel Anda semakin sensitif terhadap insulin. Maka dari itu, semakin Anda pasif, semakin besar risiko Anda mengalami diabetes tipe 2.

  • Prediabetes

Prediabetes adalah kondisi di mana kadar gula darah Anda lebih tinggi dari kadar normal, tapi tidak cukup tinggi untuk diklasifikasikan sebagai diabetes. Jika tidak diatasi, prediabetes dapat berlanjut menjadi diabetes tipe 2.

  • Riwayat keluarga

Risiko mengalami diabetes tipe 2 semakin besar jika orangtua atau saudara kandung Anda memiliki diabetes tipe 2. Bahkan, menurut American Diabetes Association, dibandingkan dengan diabetes tipe 1, diabetes tipe 2 memiliki hubungan yang sangat kuat dengan riwayat dan keturunan keluarga. Para ahli menduga bahwa terdapat gen khusus yang dibawa orangtua ke generasi selanjutnya. Namun, sampai saat ini para ahli masih mencari tahu gen mana yang membawa sifat penurunan penyakt ini.

  • Umur

Risiko dari diabetes tipe 2 meningkat seiring Anda bertambah umur, khususnya setelah umur 45 tahun. Hal ini mungkin karena orang-orang di usia ini cenderung kurang bergerak, kehilangan massa otot, dan menambah berat badan seiring bertambahnya umur. Selain itu, proses penuaan juga mengakibatkan penurunan fungsi sel beta pankreas sebagai penghasil insulin. Namun, diabetes tipe 2 juga bisa meningkat secara dramatis pada remaja, dan masa awal dewasa karena faktor gaya hidup yang tidak sehat.

READ  Cara Efektif Mengatasi Diabetes Sebelum Berakhir pada Komplikasi

“dilansir dari laman Hellosehat” Penyakit diabetes tipe 2 merupakan suatu kondisi tingginya kadar gula (glukosa) dalam darah. Orang awam sering menyebut kondisi ini sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula. Diabetes tipe 2 tersebut dapat terjadi ketika pankreas mampu memproduksi insulin yang memadai, tapi sel-sel tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efisien untuk mengubah glukosa menjadi energi. Kondisi ini disebut sebagai resistensi insulin. Akibatnya, gula darah menumpuk terlalu banyak dalam tubuh. ketahui ciri-ciri diabetes karena jika gula darah dibiarkan terus tinggi, Anda bisa berisiko mengalami berbagai komplikasi diabetes berbahaya yang memengaruhi sistem saraf, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah, serta gusi dan gigi. Secara umum, diabetes dapat menyerang pada semua orang di segala umur, termasuk anak-anak. Namun, diabetes tipe 2 biasanya mulai terjadi pada umur dewasa dan lanjut usia. Faktor metabolisme tubuh yang semakin menurun dan gaya hidup semasa muda menjadi alasan terkuat mengapa orang dewasa dan lansia berisiko tinggi terkena penyakit tersebut.

 

Sumber: Sayangi.com