Berikut ini ketahui beberapa faktor yang memiliki resiko diabetes dapat terjadi

“dilansir dari laman Halodoc” Diabetes melitus tipe 2, atau biasa kita kenal dengan sebutan diabetes melitus yang tidak tergantung pada insulin, merupakan suatu kondisi penyakit yang terjadi pada jangka panjang bahkan terjadi ketika tubuh tidak secara efektif menggunakan insulin. Pengidap diabetes tipe 2 memiliki kadar glukosa (gula) darah di atas normal akibat tubuh tidak efektif menggunakan insulin atau kekurangan insulin yang relatif dibandingkan kadar glukosa darah. Berikut beberapa faktor risiko penyakit diabetes tipe 2 yang dapat kamu ketahui, antara lain:

  • Ras kulit hitam, Hispanik, Pribumi Amerika, dan Asia-Amerika, memiliki angka pengidap lebih tinggi dibandingkan dengan ras kulit putih.
  • Usia di atas 45 tahun, walaupun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi sebelum usia 45 tahun.
  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.
  • Distribusi lemak perut yang tinggi.
  • Gaya hidup tidak aktif dan jarang beraktivitas atau berolahraga.
  • Riwayat penyakit diabetes tipe 2 dalam keluarga.
  • Kondisi prediabetes, yaitu ketika kadar gula darah lebih tinggi dari normal, tapi tidak cukup tinggi untuk diklasifikasikan sebagai diabetes.
  • Riwayat diabetes saat hamil.
  • Wanita dengan sindrom ovarium polikistik, yang ditandai dengan menstruasi tidak teratur, pertumbuhan rambut berlebihan, dan obesitas.
READ  YUK KENALI CIRI-CIRI GULA DARAH TINGGI

Organ pankreas di dalam tubuh dapat memproduksi sebuah hormon yang bernama insulin memiliki peran dalam mengendalikan kadar gula dalam darah. Insulin tersebut ternyata dapat  berfungsi untuk memindahkan glukosa dari darah ke dalam sel-sel tubuh untuk diubah menjadi energi. Pada pengidap diabetes tipe 2, yang terjadi adalah:

  • Tubuh pengidap memproduksi insulin yang cukup, tapi sel-sel tubuh tidak menggunakannya dengan baik sebagaimana mestinya. Kondisi ini dinamakan resistensi insulin. Orang yang mengalami obesitas berisiko mengalami resistensi insulin, karena banyaknya kadar lemak dalam tubuh bisa membuat tubuh kesulitan menggunakan insulin dengan benar. Selain itu, keturunan atau riwayat keluarga dengan diabetes tipe 2 juga dapat meningkatkan seseorang untuk mengidap penyakit yang sama.
  • Tubuh pengidap tidak memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup untuk mengontrol kadar glukosa darah agar tetap dalam batas normal.
READ  Gejala, Komplikasi, dan Cara Mengobati Diabetes Mellitus Tipe 1

“dilansir dari laman Hellosehat” Penyebab diabetes tipe 2 biasanya adalah resistensi insulin, dimana ketika suatu kondisi yang terdapat pada sel-sel otot, hati, dan lemak tidak dapat menggunakan insulin dengan optimal. Akibatnya, tubuh tersebut  membutuhkan lebih banyak insulin supaya kadar glukosa dalam tubuh bisa tetap stabil. Pada akhirnya justru ada kebanyakan glukosa yang tidak dapat diserap oleh sel tubuh dan menngalir dalam darah. Saat gula tidak dapat memasuki sel-sel, kadar gula dalam darah meningkat tinggi. Jika kondisi ini dibiarkan terus-terusan dapat menyebabkan hiperglikemia. Kebutuhan insulin yang terus meningkat membuat sel beta pankreas bekerja lebih keras. Akibatnya sel beta pankreas justru tidak mampu merespons perubahan glukosa darah dalam tubuh dengan baik. Hal ini menyebabkan insulin tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Resistensi insulin sendiri  yang menjadi penyebab diabetes tersebut, dan dalam permasalahan ini bisa disebabkan oleh berbagai  hal, berikut beberapa faktor yang memiliki resiko diabetes terjadi:

  • Faktor genetik.Bila kakek, nenek, orangtua, atau saudara kandung Anda memiliki penyakit ini, Anda juga berisiko tinggi untuk mengelaminya juga.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas. Peningkatan lemak membuat tubuh mengalami resistensi insulin sehingga kesulitan menggunakan insulin dengan benar.
READ  Apa Itu Diabetes Gestasional? Inilah Berbagai Info Pentingnya

Diabetes tipe 2 merupakan suatu kondisi yang sepenuhnya belum dipahami oleh beberapa  para ahli. Pasalnya, sejumlah orang ternyata dapat berisiko tinggi mengalami diabetes tipe 2 dan sebagian lagi tidak.

 

Sumber: Hellosehat.com